Showing posts with label to-self. Show all posts
Showing posts with label to-self. Show all posts

Tuesday, February 23, 2016

Rumah Baru

Halo semua,

Sudah hampir 6 bulan saya ga nulis-nulis lagi di sini. Saya masih tetep blogging juga, tetapi karena satu dan lain hal saya memutuskan untuk pindah "rumah" tulis menulis saya ke wordpress, alamatnya yaitu arumadin.wordpress.com 

Awalnya saya agak susah buat ninggalin/pindah dari blog ini, secara ya blog ini udah nemenin dari Juni 2008 sampe 2015 (baca: dari jaman SMP kelas 8 sampe kuliah tingkat 3) oh no, jadi pengen heboh sendiri tau umur blog ini udah selama itu...... Blog ini berkesan buat saya karena isinya memori-memori yang sengaja ingin disimpan (saya nulis juga di diary, tapi beberapa tahun ditulis terus baca lagi, terus merasa itu ga banget jadinya saya buang bukunya hahaha) 

Yang bikin saya lebih senang lagi dengan blog ini yaitu kalau ada orang yang merasa senang juga baca blog saya (padahal isinya ga jelas ya). Terus juga karena banyak teman-teman yang pakai blogger juga, jadi saya lebih gampang tau latest update-nya hehe. Momen-momen menyenangkan itu lah yang ga bisa keulang lagi... Tapi saya harap semoga di blog yang baru, pembaca juga tetap senang membaca tulisan saya hehe :D

Rencananya blog ini ga akan saya tutup (dan semoga blog ini baik-baik saja), tapi saya tetap merasa perlu buat mindahin tulisan-tulisan di sini, mungkin ke blog di wordpress atau nanti ke domain saya sendiri :p

Terima kasih untuk blog ini yang telah menjadi rumah yang nyaman bagi tulisan-tulisan saya dan terima kasih terutama untuk para pembaca dan kawan-kawan blogger yang pernah berkunjung untuk membaca tulisan saya yang yah seperti ini lah.. Jangan lupa untuk main ke rumah baru saya di arumadin.wordpress.com :)) 

Semoga tulisan di blog ini masih bisa memberi manfaat untuk para pembaca dan semoga di rumah baru (untuk tulisan-tulisan saya) bisa memberi lebih banyak kebahagiaan dan manfaat baik untuk saya pribadi maupun untuk para pembaca. Terima kasih :))

Here's peony for you all~
sumber gambar: http://www.bridgewatergardens.com/Light_Medium_PInk_Peonies_Vase.JPG

Wednesday, September 9, 2015

Grow

“What one thing should I focus on that would help me grow my career?”To which I usually answer — “just keep making stuff.
Which usually begs the follow up question — “okay, but make what, and how?”
From those three articles, i think the big picture is about grow.
Industrial designer became Apple's greatest product, so, the object being processed was the human, right?
Become a google designer by working in office/studio that let you/nurture you to grow
Keep making stuff to grow...

Grow.

How great do you wanna be?

Thursday, July 2, 2015

Bandung Events #1: Kampoeng Jazz, Pizza Data, CodeMeetUp()

One of many reasons why I loved Bandung is it has many events, particularly the community based events. From craft classes until IT discussion can be found in this lovely city. Well, i know i am a true introvert and those events are filled with many strangers (at first). Room full of strangers is kind of scary for introvert, you know~ I was afraid in my first time to attends such events. Luckily, i am not alone since i went there with a friend. Though I overcame my fear of coming to those events, i still could not be the person who start the conversation first.
Here are some photos of events i attended this year (until today). Most of them where taken from the events' websites.
Pizza Data
For the article, datanesia's website. There's my face in the photo but i wasn't prepared so, I am not posting the photo here haha.
Here's the 2nd time I came to Pizza Data. It was yesterday and since it's Ramadan fasting month, my team and I used this opportunity for breakfasting together sok-sokan bukber deh. If you asked if there's pizza? the answer is yes and its free and you can have two or more slices (if there're not many people attending hehe) :D
Pizza Data Bandung
Taken from kak Pandu's facebook post
Kampoeng Jazz 2015
next is photo from Kampoeng Jazz 2015 event. I am not a person who would go to concert, but since Ka Eja from Accellera gave the tickets to us (my friends and I), so we went there. Basically, it was not a ticket, but invitation, so, we could enter the venue without queuing. Cool, isn't it? :))
I did not take any photos there, so i just posted the ticket :p
Kampoeng Jazz Invitation
codeMeetUP()

Code? me doing code? haha it's not sound that scary, I don't need to code in this event. This is an event held by ProcodeCG (visit their website here: https://procodecg.wordpress.com). Anyone from any backgrounds who has interest in IT can come to BCCF to hear the sharing & discussion since it's not always technical discussion. I have attended this event twice, the first was "Start Up Pitch Failures" whose speaker is my lecturer, Mr. Budi or Pak BR. The second time, the sharing topic was SEO (Search Engine Optimization).
Here are the photos
Start Up Pitch Failures
Yeah, i was the only girl there.... (source: procodecg.wordpress.com)
CodeMeetUp Bandung
Finally, not the only girl :p (source: procodecg.wordpress.com)
By attending these events, I overcame my fear of coming to events with many strangers hehe. I started to know about other people, what are they doing, how do they could doing their work with much passion. So cool & inspiring!
Ok, that's all for now, see you on the next post! :D  

Wednesday, July 1, 2015

Dream Big, Challenge Yourself

Haloo~

Pagi ini ga ada niatan buat nge-blog, tapi berawal dari pikiran-pikiran yang tiba-tiba muncul setelah subuh, lalu saya jadi nulis di jurnal, akhirnya saya jadi ga tidur lagi :") Masih bisa sih tidur jam7-8 sebelum berangkat KP hehe. Meskipun sekarang lagi musim kerja praktek, tapi saya bukan mau cerita tentang itu sih hehe.

Tulisan ini bermula dari pikiran-pikiran yang bermunculan pagi ini (dan dari sebelumnya juga sih, cuma sekarang udah terakumulasi dan jadi kepikiran cukup mendalam)
"Sekarang udah mau tingkat 4, tahun depan lulus (Amiin) terus mau ngapain? Udah punya plan apa?"
Lalu saya nulis-nulis, brainstorming sendiri bikin plan. Bikin pilihan-pilihan dan bikin list plus & minus dari tiap pilihan. Dan memang ya, kalau nulis pakai tangan (bukan ngetik) lebih memicu buat memunculkan kemungkinan-kemungkinan lain. 

Saya bikin plan buat di masa depan, tapi pikiran saya malah terbawa ke waktu yang udah lewat. Terus saya dapat artikel ini waktu lagi browsing


Willing to be scared but not scared off.

Jadi teringat waktu di IC, masa-masa olimpiade. Waktu itu saya punya mimpi biar bisa sampai OSN tingkat nasional, berhubung waktu SMP bisanya sampai tingkat provinsi. Menurut saya harusnya waktu SMA MAN saya bisa lebih baik dari waktu SMP, berarti lebih dari tingkat provinsi dong. Yaudah deh, saya pasang target OSN tingkat nasional. "Sampai nasional aja, ga dapet medali gapapa deh", harapan saya pas itu. Terus beneran ga dapet medali. Coba lebih ambis lagi yaa pas itu harapannya hehe. Meskipun begitu, buat saya waktu itu target buat sampai ke tingkat nasional udah termasuk dream big. Salah satu target besar saya waktu pertama-tama masuk IC.

Buat mencapai target itu, saya harus masuk KBS atau Klub Bidang Studi buat persiapan lomba-lomba. Saya masuk KBS Fisika. Kenapa? Sesederhana karena waktu SMP, bidang saya juga fisika hehe. Pas itu di KBS Fisika, timnya terdiri dari beberapa orang. Cowok semua sih kecuali saya. Pas itu saya udah coba ngajakin temen yang cewe juga, tapi pada ga lanjut. Tapi saya coba buat bertahan dan lihat hasilnya. Kalau katanya Sheryl Sandberg,
"Sit at the table". 
Lagian temen-temen di KBS ya temen seangkatan sendiri, bisa selow tapi tetep agak gimana gitu sih jadi cewe sendiri haha. Kalau saya lemah karena takut jadi cewek sendirian di bidang yang dikuasai oleh para pria, takut dipandang sebelah mata, takut karena saya belajar lebih lambat dari temen-temen di KBS, dsb, saya balikin lagi ke niatan ikut KBS: buat dapetin ilmu yang lebih advanced dari yang di kelas, buat menantang diri sendiri, buat ngebuktiin ke diri sendiri (dan mungkin orang lain). Memang harus maksa diri sendiri sih :))

Masa-masa lomba, saya ga hanya bersaing dengan peserta dari SMA lain, tapi juga sama teman-teman sendiri. Mana temen-temen saya pada jago-jago banget lagi! Tapi akhirnya, -- setelah melalui perjuangan dengan usaha keras, latihan ngerjain soal berjam-jam, dan mengorbankan izin reguler -- waktu itu saya bisa sampai ke OSN tingkat nasional, bidang Fisika. Waktu itu peserta bidang fisika yang cewek cuma ada 11 kalau ga salah dari 120an peserta (atau lebih) yang ada. Mungkin buat beberapa orang, OSN tingkat nasional biasa aja lah ya~ tapi buat saya lebih dari itu sih. Ada hal penting lain selain prestasi atau medali. Ketika sampai di tingkat nasional, saya jadi dapat pengalaman dan pembuktian buat diri sendiri. Pembuktian kalau mimpi itu bisa dikejar, pembuktian kalau ketakutan dalam mencapai mimpi itu memang ada dan bisa ditaklukkan, jangan malah menjauhkan kita dari mimpi, pembuktian akan kerja keras. Dengan punya pengalaman kaya gini juga membantu saya di masa sekarang ketika lagi membangun mimpi. 

What is your big dream?

Mimpi saya? Dari kecil mimpi saya punya satu istilah "Desainer". Dulu suka desain baju & rumah, sekarang tambah ke desain grafis, ke depannya entah apa lagi hehe. Makanya kalau ditanya mau jadi apa, jawabannya mau jadi desainer :) Emang ga nyambung-nyambung amat sih sama fisika, tapi kalau mau disambungin, ada hubungannya: sama-sama menggunakan kemampuan visual. Fisika kan banyak gambarnya. Desain juga harus corat-coret pakai gambar. Waktu itu saya juga pernah coba tes kemampuan saya dan yang ada di atas ternyata kemampuan visual hehe. Pernah juga tes psikologi waktu di IC, tes bakat minat kalau ga salah, terus hasilnya ada bidang Aesthetic atau bidang-bidang yang terkait dengan keindahan di top 3 bakat minat saya. Wah ini sepertinya malah jadi connecting the dots hehe :D

Ok, sudah mau jam 8 dan harus siap-siap KP

Bandung, 1 Juli 2015, pukul 7.48 pagi.

Ga sempat tidur lagi habis subuh karena ngeblog aja ternyata makan waktu sampai satu jam 

Friday, June 19, 2015

INTJ: Career

Postingan ini bakal cukup panjang dan tujuannya buat pengingat ke diri sendiri. Bagi yang berminat baca lebih banyak, bisa kunjungi sumber tulisan: www.16personalities.com . Selamat membaca :)


Professional competence is often the area in which INTJs shine most brilliantly. Their capacity for digesting difficult and complex theories and principles and converting them into clear and actionable ideas and strategies is unmatched by any other type. INTJs are able to filter out the noise of a situation, identifying the core thread that needs to be pulled in order to unravel others' messes so that they can be rewoven into something at once beautifully intricate and stunningly simple in its function.
The real challenge for INTJs is that in order for their innovative (and to less insightful individuals, seemingly counter-intuitive) ideas to be heard, they need to have a friendly ear to bend, and developing an amiable rapport with authority figures is not exactly in INTJs' list of core strengths. In their early careers, INTJs will often have to suffer through menial tasks and repeated rejections as they develop their abilities into a skillset that speaks for itself.
INTJs will often find ways to automate routine and mind-numbing tasks, and as they progress, their natural confidence, dedication, and creative intelligence will open the doors to the increased complexity and freedom they crave.

Where's My Drawing Board?

INTJs tend to prefer to work alone, or at most in small groups, where they can maximize their creativity and focus without repeated interruptions from questioning colleagues and meetings-happy supervisors. For this reason INTJs are unlikely to be found in strictly administrative roles or anything that requires constant dialogue and heavy teamwork. Rather, INTJs prefer more "lone wolf" positions as mechanical or software engineers, lawyers or freelance consultants, only accepting competent leadership that helps in these goals, and rejecting the authority of those who hold them back.
Their independent attitude and tireless demand for competence mean that INTJs absolutely loathe those who get ahead by seemingly less meritocratic means like social prowess and political connections. INTJs have exceptionally high standards, and if they view a colleague or supervisor as incompetent or ineffective, respect will be lost instantly and permanently. INTJs value personal initiative, determination, insight and dedication, and believe that everyone should complete their work to the highest possible standards – if a schmoozing shill breezes through without carrying their own weight, they may find INTJs' inventiveness and determination used in a whole new capacity as the winds turn against them.

Timid Men Prefer the Calm

As their careers progress further and their reputation grows, so will the complexity of INTJs' tasks and projects. INTJs demand progress and evolution, new challenges and theories, and they often accomplish this by pushing into more active strategic positions. While they don't care for the spotlight, INTJs do enjoy controlling their ideas, and will often expand into low-profile but influential roles as project managers, system engineers, marketing strategists, systems analysts, and military strategists.
But really, INTJs' vision, creativity, and competence in executing their plans make them viable in just about any career that requires them to think about what they're doing. While some careers, such as low-level sales and human resources, clearly do not play to their strengths, INTJs are able to build a niche into just about any institution, including their own, that they put their minds to.

INTJ IN THE WORKPLACE

Above all else, INTJs want to be able to tackle intellectually interesting work with minimal outside interference, no more, no less. Time-consuming management techniques like trust-building getaways, progress meetings, and drawn-out, sandwiched criticisms are only going to annoy INTJs – all they need, be they subordinate, colleague, or manager, is to meet their goals with the highest standard of technical excellence and to be surrounded by, if anyone at all, people who share those values.
On paper this makes them appear to be exemplary employees, and in many ways they are, but there are many types, especially those with a combination of the Observant (S) and Feeling (F) traits, who will find a work (or any other) relationship with INTJs extremely challenging. INTJs have a fairly strict code of conduct when it comes to their work, and if they see coworkers valuing social activities and "good enough" workmanship over absolute excellence, it will be a turbulent environment. For this reason, INTJs tend to prefer to work in tight, like-minded groups – a group of one, if necessary.

INTJ Subordinates

INTJs are independent people, and they quickly become frustrated if they find themselves pushed into tightly defined roles that limit their freedom. With the direction of a properly liberal manager, INTJs will establish themselves in a position of expertise, completing their work not with the ambition of managerial promotion, but for its own intrinsic merit. INTJs require and appreciate firm, logical managers who are able to direct efforts with competence, deliver criticism when necessary, and back up those decisions with sound reason.
Note that it is INTJs' expectations of their managers that are being defined here, and not the other way around, as with some other personality types. Titles mean little to INTJs – trust and respect are earned, and INTJs expect this to be a two way street, receiving and delivering advice, criticisms and results. INTJs expect their managers to be intelligent enough and strong enough to be able to handle this paradigm. A silent INTJ conveys a lack of respect better than all their challenges ever will.

INTJ Colleagues

Active teamwork is not ideal for people with the INTJ personality type. Fiercely independent and private, INTJs use their nimble minds and insight to deflect personal talk, avoid workplace tension, and create situations where they aren't slowed down by those less intelligent, less capable, or less adaptable to more efficient methods. Instead, they will likely poke fun by forcing them to read between the lines and making them deal alone with work that could have been easier if they'd only taken INTJs' suggestions.
INTJs are brilliant analysts, and will likely gather a small handful of trusted colleagues to involve in their brainstorming sessions, excluding those who get too hung up on details, or who otherwise have yet to earn their respect. But more likely, INTJs will simply take the initiative alone – INTJs love embracing challenges and their consequent responsibilities, and their perfectionism and determination usually mean that the work comes out clean and effective, affording INTJs the twin joys of solitude and victory.

INTJ Managers

Though they may be surprised to hear it, INTJs make natural leaders, and this shows in their management style. INTJs value innovation and effectiveness more than just about any other quality, and they will gladly cast aside hierarchy, protocol and even their own beliefs if they are presented with rational arguments about why things should change. INTJs promote freedom and flexibility in the workplace, preferring to engage their subordinates as equals, respecting and rewarding initiative and adopting an attitude of "to the best mind go the responsibilities", directing strategy while more capable hands manage the day-to-day tactics.
But this sort of freedom isn't just granted, it's required – those who are accustomed to just being told what to do, who are unable to direct themselves and challenge existing notions, will have a hard time meeting INTJs' extremely high standards. Efficiency and results are king to INTJs, and behaviors that undermine these conditions are quashed mercilessly. If subordinates try to compensate for their weakness in these areas by trying to build a social relationship with their INTJ managers, on their heads be it – office gossip and schmoozing are not the way into INTJs' hearts – only bold competence will do.

Tuesday, May 19, 2015

Ice Cream with Sprinkels

Elgin: “That’s where I really failed your mom,” he said. “She was an artist who had stopped creating… “
The words above are quoted from Where’d You Go Bernadette novel.
I’m not calling myself an artist, but somehow i can feel what Bernadette feel when she didn’t create something. And, since i’m almost near my holiday and to make the holiday to be more productive, i plan to have this daily project of making some design, doing some coding, and more :p
When i finally create something like this graphic design, this kind of activity give me happiness, for myself at least. Hope my designs bring happiness to your day, too! :D
A photo posted by Arum Adiningtyas (@arumadin) on


Thursday, March 5, 2015

Women, Work

Mulai dari minggu kemarin sampai sekarang saya lagi baca bukunya Sheryl Sandberg - Lean In. Awalnya karena teman saya, Arin, yang membuat posting tentang buku ini, kemudian saya baca karena penasaran, ingin tau seperti apa pemikiran seorang Sheryl Sandberg. Pembahasan di bukunya cukup ringan karena banyak cerita-cerita tentang pengalaman Sheryl sendiri, jadi berasa seperti otobiografi. Meskipun ringan, tapi tetap didukung dengan hasil-hasil studi yang dicantumkan di bagian referensi. Jadi, kalau mau baca lebih lengkap, bisa cari pembahasan studinya. 


Dari buku ini, banyak tulisan yang saya highlight (karena bacanya di e-book) sebagai ide atau pembahasan yang menarik. Karena cukup banyak yang di-highlight dan belum saya rapikan jadi satu tulisan, jadinya belum bisa saya posting kali ini hehe. Saya belum baca sampai habis (masih ada 3 bab lagi), tapi banyak pelajaran yang bisa diambil dari cerita-cerita di buku ini :3

Hari ini saya membaca artikel Female company president: "I'm sorry to all the mothers I worked with" dari web Fortune. Lalu menemukan beberapa poin yang menurut saya penting dan sifatnya general, ga cuma buat para wanita aja. Misalnya tentang menghargai pekerjaan dari hasilnya bukan dari lamanya waktu seseorang bekerja di kantor. 
There’s a saying that “if you want something done then ask a busy person to do it.” That’s exactly why I like working with mothers now.
Moms work hard to meet deadlines because they have a powerful motivation – they want to be sure they can make dinner, pick a child up from school, and yes, get to the gym for themselves.
By enabling women to work from home, women could be valued for their productivity and not time spent sitting in an office 
Tentang kerja dari rumah, ada artikel dari HBR yang berjudul "To Raise Productivity, Let More Employees Work from Home" dan tentang fleksibilitas kerja bisa dibaca di artikel "Let Employees Choose When, Where, and How to Work" 

Selamat membaca :D

Saturday, January 31, 2015

Movie: Whiplash

Kemarin, saya nonton Imitation Game di bioskop, seperti biasa ada trailer film-film lain dulu sebelum filmnya dimulai, salah satunya adalah film ini: Whiplash. Masalahnya ketika itu adalah trailer Whiplash ini ditayangin ga sampai selesai. Alhasil ga tau judulnya apa, padahal udah penasaran, pengen nonton filmnya. Dengan beberapa petunjuk akhirnya ketemu deh judul film ini di internet: Whiplash.
"A promising young drummer enrolls at a cut-throat music conservatory where his dreams of greatness are mentored by an instructor who will stop at nothing to realize a student's potential."IMDB Whiplash


Alasan ingin nonton:
1. Miles Teller (pemeran Andrew, tokoh utama film ini)
2. Film ini bercerita tentang "How To Be Great"

Di film ini, diceritain gimana usaha Andrew buat jadi drummer jazz seperti drummer-drummer hebat di dunia. Andrew yang bukan berasal dari keluarga musisi ini direkrut untuk masuk ke kelas Dr. Fletcher. Ketika di kelas itu Andrew benar-benar ditekan sama Fletcher, Andrew pun berlatih keras sampai jarinya berdarah-darah, berkali-kali, tapi konfliknya belum selesai sampai di situ, masih ada lanjutannya~ (yang ga akan saya kasih tau di sini karena takutnya nanti spoiler :p )
“I push people beyond what’s expected of them. I believe that is an absolute necessity.”- Terence Fletcher
Buat saya sendiri, ketika menonton film ini, saya seolah diingatkan kembali buat berusaha sampai maksimal. Berhubung saya sekarang lebih sering menjalani keseharian dengan santai, seolah-olah tanpa ambisi, jadinya ketika nonton ini saya merasa saya harus usaha lebih keras buat mendapatkan impian saya.

Film ini juga mengingatkan saya kembali ke masa-masa di IC, waktu lagi ambisius buat ikut lomba. Alasan saya mau ikut lomba pada awalnya karena pengen sering berada di luar asrama, maklumlah masih sering kangen kehidupan di luar asrama hehe. Buat cerita yang ini saya buat di postingan lain karena udah melenceng dari jenis tulisan kali ini hehehe. Tulisannya bisa dibaca di sini.


*gambar dikutip dari buku "It's Not How Good You Are, It's How Good You Want To Be"

Usaha Keras Tidak Akan Berkhianat

Bermula dari menonton film Whiplash yang mengingatkan saya ke masa-masa lomba di IC, saya jadi pengen berbagi sedikit cerita saya di sini

Waktu itu lomba saya di bidang fisika. Iya, ceweknya dikit banget di fisika, ditambah lagi dari keseluruhan anggota tim lomba (semua mata pelajaran) ceweknya cuma dikit. Kalau buat bidang fisika aja, saya satu-satunya cewek di tim. Kan di tim fisika ceweknya dikit, emang ga takut/serem jadi cewek sendiri?  Niat saya kan buat cari ilmu (di luar kelas), lagian dari semua bidang saya maunya fisika (daripada bidang lain). Di klub fisika itu saya menantang diri saya sendiri: seberapa jauh saya mampu berjuang di bidang ini, bidang yang sering dihindari oleh para cewek.

Saat itu juga saya agak bereksperimen sih: kalau saya belajar lebih rajin, lebih tekun, hasilnya bakal gimana ya? Kondisi awal saya pas itu, saya anggota cadangan buat suatu lomba (karena satu dan lain hal saya tetep ikut lomba juga). Kondisi akhir yang ingin saya capai dari eksperimen saya tadi: bisa berada di (minimal) peringkat 2 di klub fisika dari 5 orang yang ikut lomba (yang saya sebut kalimat sebelum ini). Eksperimen saya akhirnya berhasil. Yah, meskipun belum sampai dapat medali, tapi saya jadi punya keyakinan kalau usaha keras tidak akan berkhianat :)

Friday, November 14, 2014

Cerita Minggu Ini

Seminggu ke belakang banyak kejadian menarik. 

Jumat-Sabtu-Minggu 

Balik ke rumah. Nonton Interstellar. Makan bebek bakar, makan makanan rumah. Pergi ke toko buku (karena bulan baru). Hibernasi di rumah. 

Hari Sabtu, pergi ke acara IYC 2014 di Thamrin. Acaranya seminar-seminar. Saya pilih 2 seminar dengan tema (1) Pendidikan, (2) Kreativitas, Inovasi, & Riset. Ternyata seminarnya keren-keren dan jadi dapet banyak pelajaran. Ini beberapa poin yang saya catat dari seminar waktu itu:

  • Intelektualitas ga bisa dibeli. Intelektualitas membuat kita setara dengan bangsa-bangsa lain.
  • Study is to satisfy your soul.
  • Sukses besar ga dibuat dengan cara instan, tapi dari sukses-sukses kecil, dari sukses-sukses harian.
  • Di Jerman, sekolah gratis sampai jenjang kuliah. Kalau ada murid yang ga masuk selama 3 hari tanpa alasan, nanti dicari sama pemerintah dan bisa mendapat hukuman. Sekolah gratis karena memberi pendidikan merupakan kewajiban negara yaitu memenuhi kebutuhan mendasar bagi warganya. 
  • Vertraun ist Gut, Kontrole ist Besser (Percaya itu baik, tapi kontrol itu lebih baik)
  • Sebanyak 75% sekolah di Indonesia belum mencapai standar minimal
  • The greater your challenge, the greater you are
  • Rejection is a great platform for your success 
  • Passion harus ditambah dengan belajar kalau ga nanti ga kekontrol
Hari Minggu, balik ke Bandung. Hari itu Bandung lagi macet-macetnya! Untungnya, pas nunggu saya malah dapat temen dan jadi ngobrol-ngobrol :D

Sampai kosan sekitar jam 9.30 malam, terus masih punya PR bikin analisis dalam bentuk dokumen yang mana belum saya kerjain sama sekali. Terus saya tertidur dan kebangun sekitar jam 3 terus ya langsung ngerjain soalnya harus dikumpul sebelum jam 5 pagi. 

Senin-Selasa-Rabu

Tiga hari ini ga kerasa bedanya, kegiatannya cenderung sama: menyiapkan presentasi AKE. Agak beda waktu hari Selasa, pas itu tiba-tiba galau tentang kerja praktek (KP) soalnya temen-temen pada mulai nanyain mau KP di mana? terus saya jawabnya "Pengennya ga dibidang analis, pengen di bidang yang ada desainnya, mungkin media atau UX design" Kendalanya adalah di Indonesia masih jarang perusahaan yang bergerak di bidang UX design, kelihatan beda jumlahnya sama di UK, SG. Dan entah kenapa, pas banget hari itu Fitri telepon dari Jogja, kami cerita-cerita hampir sejam. Topiknya yaa ga jauh-jauh dari kuliah yang lagi dijalanin. Mungkin karena kuliahnya mirip, galaunya mirip, jadi bisa tau rasanya gimana dan saling menyemangati hehe :")

Oia, karena bikin presentasi AKE, saya jadi bereksperimen lagi sama power point, biasanya kan cuma dihias seadanya haha. Presentasi AKE saya gabungin sekitar jam 3 pagi, terus menuju jam 5 pagi, udah dikirim ke asisten. Agak mendekati deadline sih, tapi pressure-nya ga tinggi-tinggi amat, soalnya tinggal dikit yang harus dikerjain. Tapi habis subuh malah agak ga enak badan, makannya tidur lagi dan skip kelas pertama. Pas kelas kedua diusahain masuk, terus tenggorokannya udah ga enak aja (tanda-tanda mau radang) dan sempet pusing di kelas. Alhasil, malam hari Rabu itu saya tidur jauh lebih cepat ._.

Kamis

Kamis pagi. Bangun jam 3 pagi hari dan Alhamdulillah udah lumayan segar, meskipun tenggorokannya masih ga enak (ternyata karena lagi musim pancaroba, tiap sore hujan terus beberapa hari ini :) ) Pas jam 3 itu saya malah buka FB dan mendapat kabar gembira dari grup kelas: kelas pertama ditiadakan! Langsung lah merancang enaknya pagi itu dipakai buat apa ya? Terus saya keinget kalau hari Kamis itu jadwalnya Ladies Day di kolam renang (tiba-tiba jadi semangat sama hari itu). Ajaibnya lagi adalah habis subuh saya malah keasikan nyoba-nyoba bikin gif di photoshop sampai jam 6.30. Benar-benar tidak direncanakan sebelumnya dan malah jadi produktif. Saya jadi menduga begini: apa kalau ga ada kuliah saya malah jadi lebih produktif? hehehe :3

A photo posted by Arum Adiningtyas (@arumadin) on
Sekian cerita kali ini, terima kasih sudah membaca :)

Dear GBC,

Postingan ini ditujukan buat masa GBC yang udah saya anggap kaya keluarga kedua, buat yang bukan GBC dan mau baca, silahkan saja~

Masih inget kejadian di surabi pas itu? bisa dibaca di sini 

Pertama-tama, mau minta maaf karena sudah merusak suasana pas itu hehe, tapi izinkan saya buat menjelaskan beberapa hal (boleh lah ya, kan ini blog saya :p )

Jadi, minggu itu cukup menguras emosi buat saya (agonizing week). Banyak hal yang terjadi yang bikin  saya kesel dan kadar introvert saya jadi tinggi banget. Tapi masalah seorang introvert ga akan selesai kalau dihadapin sendiri. Seenggaknya buat mengganti emosi-emosi yang sebesar itu dengan kebahagiaan, orang introvert perlu orang lain, yang mana adalah orang-orang terdekat si introvert. 

Hal itu juga yang terjadi sama saya, makannya ketika ada ajakan makan sama GBC saya langsung ikut. Tapi namanya lagi agonizing week, bakal jadi sensitif banget hehe. Yang bikin tambah parah, pas banget sebelum kita berangkat ke tempat makan, saya ketemu seorang teman dan ngasih kabar yang bikin saya kecewa banget... (sampai rasanya saya mau nangis pas itu juga..) Makannya pas Hime ambil buku aku, reaksinya jadi berlebihan gitu (habisnya tanggung juga bukunya bentar lagi habis..) 

Oke, gitu aja penjelasannya. Di atas itu semua, saya mau minta maaf bangeeet sama GBC. Saya sadar, kejadian pas itu juga karena kesalahan saya. Saya percaya yang namanya keluarga, kalau abis rame (berantem atau apa pun) juga bakal kalem lagi ke semula, ya gak Gyc? Lagian habis kejadian itu juga udah rame lagi kan :D

Yang jelas, kalian harus tau, sengeselin-ngeselinnya kalian (meskipun sampe bikin nangis, kesel, apalagi yang cowo-cowo :p ) tetep aja kalian salah satu yang paling bisa diandalkan dan nemuin orang yang bisa diandalkan itu susah banget, apalagi kumpulan orang-orang :)

Kalau mengutip kata-kata dari lirik lagu "Knock-knock" - Lenka: 
"You're my remedy"
A warm bath
A good laugh
An old song
That you know by heart

Thursday, November 6, 2014

The Shell, The Dots, & Passion

Baru kenal semester ini. Ternyata menarik :))

A photo posted by Arum Adiningtyas (@arumadin) on

Terus hari ini saya ikutan sharing session di lab SI (Sistem Informasi), itu pun ikutnya ga sengaja karena lagi ngerjain tugas. Yang ngasih materinya adalah kakak asisten lab SI yang sekarang sedang S2 tentang SI juga.
Dan lagi-lagi, saya percaya ga ada yang namanya kebetulan. Tiba-tiba kakaknya cerita "tau ga buku favorit aku tuh yang *sebut nama kitab analisis bisnis* :D kalau bacanya tuh seru gituuu". Dari situ saya jadi sedikit mengerti kenapa saya ga gitu suka ngerjain tugas SI yang biasanya pake tools ini dan itu. Suka sih mikir buat analisisnya, tapi ngerjainnya tuh ga ada passion-nya gitu loh entah karena subjeknya yang kurang menarik atau emang ga tertarik aja hehe.

Dari kejadian tadi saya juga jadi mikir: kenapa saya ga minat ikut lomba-lomba business case dkk kaya temen-temen saya yang lain, padahal biasanya saya merasa tertantang kalau ada lomba-lomba haha. Ternyata ya emang saya ga minat ke sana, saya ga punya inisiatif buat baca buku analisis bisnis dan semacamnya hehe. Dan, dengan saya tau mana yang saya kurang suka, saya jadi bisa lebih mengenali, mendalami hal-hal yang saya suka :)) 

Berarti sekarang udah tau hal yang suka (untuk dipelajari/didalami) ? 

Saat ini, saya masih mengumpulkan the dots. Ada banyak dots-nya dan kalau diperhatikan dengan detail, dengan lebih peka... beberapa dots (dengan jumlah yang dominan) seolah bersinar dengan intensitas yang sama, lebih terang daripada dots lainnya, saling berhubungan, dan bisa memberi petunjuk ke suatu arah/tujuan. 

Ada kalanya juga saya ga yakin, kebingungan dengan arah yang dituju si dots ini. Merasa kalau cita-cita itu terlalu tinggi, padahal apa sih yang ga mungkin kalau Yang Maha Kuasa udah berkehendak. Maka dari itu, harus sering-sering berdoa biar diberi petunjuk dari Allah SWT dan minta dikuatkan buat mencapai tujuan tadi.

source: tumblr.com
Sekian dulu postingan kali ini. Terima kasih sudah membaca~

Ditulis disela-sela mengerjakan tugas besar Analisis Kebutuhan Enterprise :D



Friday, October 31, 2014

Inspirasi Pagi Ini: Dian Sastro

Berawal dari ga sengaja liat iklan L'oreal yang "Women of worth di mata Dian Sastro" di youtube, terus nemu link ke acaranya Sarah Sechan ini. Banyak hal baik yang bisa diambil, tentang planning hidup, tentang membaca, menulis :)


imagine - plan - breakdown the plan - do research - be the whole package


"ga usah dipikirin, kerjain aja"


"lo emang harus baca untuk bisa nulis bagus, 
kalau lo emang mau jadi penulis bagus, ya lo harus baca lebih banyak lagi" 


Tuesday, October 28, 2014

Happy 27003!

Taraaa~

Pas buka dashboard blog taunya udah 27003 aja :)
27003. Sebenernya pageviews saya pasti masih kalah sama beberapa teman saya yang lain, tapi kali ini saya menganggap ini adalah sebuah milestone :)

Sedikit cerita, mungkin ada yang merasa aneh dengan screen capture di atas? Yap, dengan jumlah postingan yang sesedikit itu, tapi pageview-nya bisa banyak. Ngga kok, saya ga bikin script atau apa biar jumlahnya bisa segitu. Bukan juga karena postingan yang saya tulis terlalu fenomenal, bukan. Rahasianya adalah saya udah memulai blog ini dari 29 Juni 2008. Berarti waktu saya masih kelas 8 SMP. Haaah bahkan saya aja kaget pas sadar mulai ngeblog dari kelas 8!

Nah, tulisan-tulisan lama itu udah saya arsipkan hehe.

 Gambar di atas diambil dari halaman arsip blog saya. Bisa dilihat sendiri, ternyata saya udah mulai nge-blog dari tahun 2008 dan totalnya ada 314 postingan :") Isi-nya kebanyakan sih cerita-cerita tentang kejadian di kelas, kejadian-kejadian penting (misal: wisuda smp), wishlist, foto, hasil desain grafis, dan lain-lain hehe

Pas saya dulu pertama kali bikin blog, rasanya saya ga kepikiran deh bisa tetep lanjut sampai sekarang.. sampai udah kuliah tingkat 3!! Kalau gini ceritanya, saya jadi makin kepikiran buat kerja di bidang media & desain hehe

Oke, sekian dulu tulisan dari saya. Harus segera pergi kumpul Majalah Boulevard~ (padahal ada PR kuliah)

Terima kasih untuk para pembaca :D

Saturday, October 25, 2014

Sedang (Sangat) Introvert


Jadi ceritanya, dari akhir minggu lalu sampai tadi pagi saya ngerasa kalau spektrum introvert saya lagi mendekati ujung terjauh. Rasanya tuh kaya cuma pengen interaksi sekadarnya, tapi di sisi lain merasa ingin bareng orang-orang terdekat. Saya jadi lebih sering ngehubungin orang rumah, nge-line kakak saya (padahal biasanya jarang). Mungkin karena minggu-minggu ini terasa begitu fluktuatif, misalnya ada beberapa hal yang menyenangkan terjadi, tapi tiba-tiba ada juga hal yang bikin saya kesel, pundung, dkk. yang saya ga kebayang sebelumnya. Tapi saya percaya semuanya pasti ada hikmahnya. Cuma saya belum tau aja hikmahnya apa.

Maaf bagi yang merasa kesal/tersakiti oleh sikap saya beberapa hari terakhir. Makasih juga buat kalian yang udah mau saya ganggu/isengin/repotin gara-gara saya lagi pundung hehe (karena jadi orang introvert bukan berarti bisa menampung semua perasaan sendirian~)
Semoga berbalas kebaikan bagi semuanya :)

www.meettheintroverts.com
*Ditulis ketika sedang stuck mengerjakan codingan buat UTS take home :")

On progress: UTS take home

Sunday, September 28, 2014

Kenapa Menulis?

Saya menulis karena bagi saya menulis itu semacam terapi yang bisa bikin hidup nyaman setelahnya. Menulis bisa melonggarkan isi kepala yang kalau lagi banyak pikiran bakalan kaya awan mendung yang berat karena air hujan. Air hujannya harus ditumpahin biar jadi awan putih lagi. Pikiran yang membebani juga perlu ditumpahin, biar pikiran ga berat.

Bisa juga untuk mengabadikan cerita, momen, pikiran, kesan. Menulis itu semacam connecting the dots. Apa yang ditulis jadi dots-nya. Ketika saya menulis suatu hal, bisa saja saya sedang penasaran kenapa suatu hal terjadi dan akan kemana hal tersebut membawa saya. Pertanyaan-pertanyaan yang belum saya temui jawabannya. Saya harus mengumpulkan dots lainnya agar tau gambar yang dituju seperti apa. Tulisan ini pun awalnya hanya draft yang kalau saya baca isinya dua paragraf dan curhat colongan banget, terus setelah dipikir-pikir lagi ternyata tulisannya bisa dikembangin, lumayan bisa jadi kaya ini :D

Menulis juga ga perlu selalu di-post di blog, karena pasti akan ada hal-hal yang cuma bisa disimpan sendiri hehe. Menulis juga ga harus panjang-panjang, ga harus yang berat-berat. Menulis tentang kegiatan yang dilakukan seharian, hal-hal yang membuat kita bahagia & bersyukur akan hari itu, inspirasi yang ga sengaja ketemu juga bisa. Kan lumayan, kalau lagi bete bisa mengingat hal-hal menyenangkan yang pernah terjadi.  

Tentang inspirasi, inspirasi itu kalau ga ditulis, ya menguap. Makannya saya usahain buat mencatat dan dibuat list-nya. Kalau ditulis juga, jadi lebih mudah buat ngembanginnya (soalnya ga menghilang duluan). Terus juga, biasanya inspirasi terkait cita-cita datangnya dari orang lain yang udah sukses, jadi, saya bikin list-nya begini "inspirasi dari si X, alasannya blablablabla". Singkat aja, tapi bisa mengingatkan saya (kalau lagi hilang arah) kenapa saya harus yakin kalau cita-cita, keinginan saya masih bisa diraih. 


Kalau kalian, kenapa menulis?


Ditulis sambil menunggu postingan baru teman-teman saya :)

sumber: sarahreck.tumblr.com

Tuesday, September 23, 2014

Ilmu, Usaha, & Kesuksesan

Terinspirasi dari tokoh-tokoh sukses yang saya baca biografinya, baik melalui buku maupun artikel di internet, ternyata mereka emang ga biasa hidupnya. "Ga biasa hidupnya" dalam artian mereka benar-benar memanfaatkan waktu mereka sama kegiatan-kegiatan yang produktif dan go the extra mile.

Tokoh pertama adalah Pak B.J. Habibie, presiden ke-tiga Republik Indonesia yang pinter banget (terbukti dari beliau bisa mewujudkan pembuatan pesawat oleh anak bangsa). Beliau mengatur waktunya sehari-hari seperti ini

Foto diambil dari buku Habibie: Tak Boleh Lelah dan Kalah!
Mau juga punya waktu berenang 2 jam sehari, tapi apa daya ._.

Tokoh yang ke-dua adalah Elon Musk. Saya baru baca biografinya kemarin setelah diberi tahu oleh teman saya. Elon Musk ini ternyata keren banget (menurut saya sih hehe), bahkan di beberapa artikel dia dianggap sebagai versi nyatanya Tony Stark (ada infografisnya disini). Elon Musk juga masuk ke dalam list "The 100 Most Influential People" majalah Time bulan April/Mei 2013 (yang ternyata saya beli dan masih disimpan di lemari, jadi baca lagi hehe). Tagline-nya "Elon Musk, Our escort to the future".

Elon Musk (jas putih) menjadi cameo di film Iron Man.
Sumber: www.wired.com

Istimewanya Elon Musk ini adalah masih muda (awal 40-an), brilliant & billionaire, dan perusahaannya ga main-main! Perusahaannya terdiri dari Tesla Motors, SpaceX, PayPal, & SolarCity. Kebayang ga sih harus ngurus segitu banyak perusahaan besar? 

Rahasia kesuksesan Elon Musk di usia yang terbilang muda? 
Beberapa artikel bilang kalau dia kerja 100 jam seminggu. Jadi ketika orang kebanyakan kerja 40 jam seminggu sementara si Elon Musk ini kerja 100 jam seminggu (ini bener-bener going the extra mile deh). Selain itu, ga mungkin dia ga punya otak cemerlang kalau ngeliat perusahaan-perusahaannya yang hi-tech tadi. Kecerdasannya ini ternyata udah persiapkan dari kecil salah satunya dengan banyak membaca. 

Dari kedua tokoh ini saya belajar beberapa hal kalau mau jadi orang sukses (yang super sukses)
  • Usahanya harus ekstra, harus manfaatin waktu buat hal-hal yang produktif (dan sesuai dengan tujuan/cita-cita), harus menempuh jalan-jalan ga biasa, the extra mile 
  • Persiapan harus dimulai sedini mungkin, makannya Elon Musk bisa sesukses itu dalam usia yang terbilang muda. Di Al-Quran pun sudah dijanjikan dan kita diperintahkan untuk bersegera memperoleh kemenangan
"Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya"
Al-Mu'minun : 61

  • Ilmu itu penting. Kedua tokoh di atas ga perlu ditanya lagi lah ya mengenai kecerdasan dan kegemaran membaca dari kecil. Kebiasaan membaca ini yang menurut saya masih kurang di masyarakat kita, padahal membaca itu bisa membaca apa pun, membaca orang juga boleh kalau bisa. Padahal kalau baca berita di gadget, ga sampe 5 menit pun bisa. Kenapa kita masih engga membaca padahal untuk melakukan sesuatu harus diawali dengan memiliki ilmu? (Pada surat Al-Alaq, surat diawali dengan perintah membaca 'Iqra' dan ayat terakhir adalah perintah bersujud, dimana sujud merupakan 'amal' atau perbuatan terpenting dari shalat)
Kisah lain juga tentang pentingnya ilmu, yaitu suatu ketika Nabi Sulaiman diberi pilihan tawaran oleh Allah: Ilmu, Harta, Tahta. Kemudian Nabi Sulaiman memilih Ilmu. Dengan pilihan itu juga, akhirnya Nabi Sulaiman mendapatkan harta dan tahta. 
Sekian dari saya, mohon maaf apabila ada salah dalam penulisan.
Semoga bermanfaat!


Saturday, September 20, 2014

Manusia Pagi

Di semester 5 ini saya mencoba untuk memperbaiki pola hidup, terutama tentang bangun pagi. Berhubung juga dari hari Senin sampai Kamis saya masuk selalu jam 7 pagi, jadi saya memang harus bisa bangun pagi kalau ga mau terlambat. Setelah menjalani beberapa minggu, saya merasa menjadi manusia pagi atau morning person lebih menyenangkan. Awalnya memang ga mudah, tapi kalau bangun lebih pagi tuh terasa lebih banyak manfaatnya. Karena bangun pagi, jadi bisa menikmati udara yang masih bersih, lebih segar, dan lebih banyak hal yang bisa dikerjain juga.

Selain itu, saya juga lebih suka kalau harus ngerjain apa-apa (yang perlu konsentrasi, misalnya kumpul-kumpul, nugas) pas masih terang (pagi-siang-sore). Alasannya karena kalau malam rasanya udah lelah, semangatnya udah berkurang, kalau pun bisa mungkin ga maksimal hehe. Belum lagi kalau malam udaranya dingin bikin makin ga bisa konsentrasi aja :p Bukan berarti kalau malam hari jadi ga produktif. Malam hari masih bisa diisi sama hal-hal ringan, misalnya baca buku, telepon rumah, dan semacamnya. Jadi, kalau malam menurut saya semacam pendinginan menuju istirahat (tidur) supaya energinya kekumpul lagi dan pas bangun pagi terasa segar.




Wednesday, September 10, 2014

Analogi Kehidupan & Jalan Tol


"Hidup manusia di dunia bisa dianalogikan dengan mobil yang sedang melaju di jalan tol. Ada gerbang masuk, ada gerbang keluar. Gerbang keluar itu sebagai tujuan. Ga mungkin kan, masuk tol tapi ga bakal keluar dari tol (atau ada yang pernah coba?) Semua punya tujuan. 
Untuk sampai ke tujuan, tiap mobil kecepatannya bisa sama, bisa juga beda. Mungkin ada yang di awal pelan-pelan, kemudian melesat ketika mencapai pertengahan. Atau ada yang melesat di awal, lalu istirahat sebentar di tengah (analoginya: di jalan tol ada tempat istirahat) lalu baru mulai melaju lagi. Ada juga mobil yang melambat karena ada hambatan semisal mobilnya panas, ban bocor, dsb.  
Speed-nya beda-beda, tapi tetap ada tujuannya yang sudah ditentukan. " 
- Analogi jalan hidup dari Pak Away ketika di IC.